Minggu, 07 Oktober 2012

SATU KALIMAT TERAKHIR UNTUK KARIN



Daun-daun di taman kota berterbangan diterpa angin yang begitu kencang. Suara hiruk pikuk kendaraan lalu lalang terdengar jelas di telingaku. Aku masih saja tak memperdulikan suara yang tiba-tiba saja memanggil-manggil namaku. Tapi suara itu kini semakin mendekat, aku menoleh ke arah suara tadi.
“Firman…!!! Firman…!!! Benar kamu Firman kan?” sapa seorang cewek padaku.
“Iya aku Firman. Maaf kamu siapa?” jawabku berbalik tanya.
“Kamu gak ingat aku? Aku Karin teman Sdmu waktu kamu di Rembang..” jelasnya padaku.
“Karin?? Karin yang dulu rambutnya sering dikepang dua dan giginya hitam itu ya?”
“Heem, ingat kan ma aku. Kamu kok gitu ngomongnya, malu didengerin ma orang” sipu Karin.
“Ya ampun..!! Maaf gak tahu habis kamu udah berubah cantik sekarang. Kamu di Kudus ngapain?”
“Aku sekolah SMA 2 di Kudus. Ayahku dipindah di Kudus, jadi otomatis aku juga ikut pindah sekolahnya Kamu dimana? Dah lama banget ya kita gak jumpa..”
“Oh kamu sekolah disini ya. Aku di SMA 1. Yuk kita ke warung itu aja, aku traktir deh sekalian kita ngobrol-ngobrol” ajakku pada Karin.
Aku tak tahu mengapa hatiku selalu bergetar-getar tak karuan. Rasa itu tiba-tiba muncul di dalam kalbuku yang paling dalam. Mungkinkah ini pertanda Tuhan jika aku mulai jatuh cinta pada Karin?
♥ ♥ ♥
Semanjak pertemuanku dengan Karin, setiap harinya aku selalu terbayang dengan wajah cantik Karin. Aku selalu mimpikannya di setiap malam. Aku selalu membayangkan jika aku menjadi kekasih hatinya. Tapi entah mengapa aku masih saja mengurung niatku itu.
Suara ketukan pintu terdengar. Aku membuka pintu dengan penuh semangat hingga ibu menjadi kaget.
“Firman…Firman…!!! Kamu ngagetin ibu saja. Itu kamu dicari ma Sapto katanya dia mau mengajak kamu pergi” kata ibu.
“Baik bu, bentar lagi aku kesana. Aku mau sholat isya dulu” jawabku.
“Ya udah ibu mau buatin minuman Sapto dulu ya. Sekalian nanti kalau kamu ke ruang tamu, ambilkan buah anggur di kulkas ya..”
“Ok My Mam, siap sedia..hehehe” candaku pada ibu.
Selang 10 menit berlalu, tampak Sapto sedang mondar-mandir di ruang tamu melihat lukisan hasil karya ayahku hingga dia tidak tahu kalau aku berada dibelakangnya.
“Bengong aja kamu liatin lukisan ayah. Ayo duduk, itu lho anggurnya” ucapku sambil menunjuk anggur di meja ruang tamu.
“Ah..kamu ini ngagetin aku saja Fir. Ya nanti aku makan sampe habis. Eh, kamu mau ya nemenin aku ke Swalayan. Aku di suruh belanja banyak ma ibuku. Mau buat kue, soalnya dapat pesenan banyak. Mau ya please??” pinta Sapto.
“Ya udah deh habis itu aku traktir nasi goreng lho..!!!”
“Iya…iya tenang aja. Yuk berangkat sekarang” ajaknya.
Swalayan yang dipadati oleh berbagai orang terasa sangat ramai. Apalagi di malam minggu seperti ini. Aku mendorong troli dengan perlahan-lahan sambil menikmati suasana swalayan. Seketika ku tangkap sesosok yang aku kenal. Ku kejar cewek itu dan ternyata Karin.
“Karin…!!!” panggilku.
“Firman? Kamu disini ngapain? Borong ya?” katanya dengan suara lembut.
“Aku nganterin temanku belanja keperluan ibunya buat kue. Dapat pesanan banyak..”
“Lha temanmu mana kok gak sama kamu??”
Tak lama kemudian Sapto datang dengan membawa gula pasir banyak di tangannya.
“Firman, kamu kemana aja sih? Dicariin malahan hilang. Aku kerepotan nich..!!” kesal Sapto.
“Maaf Sapto, eh ini kenalin Karin teman Sdku di Rembang. Karin ini Sapto sahabatku” ucapku.
“Karin, salam kenal Sapto”
“Iya salam kenal juga Karin. Eh Firman, yuk cari tepung terigunya. Masih cari yang lain juga kok” ajak Sapto menarik tanganku beserta trolinya.
“Ya udah Karin, aku duluan ya. Nanti sms aku ya” gembiraku.
“Iya silahkan Firman. Insya Allah ya, aku gak janji.hihihi…” jawabnya dengan ketawa kecil.
Barang-barang yang dibutuhkan Sapto kini sudah dapat semua. Kami meninggalkan swawlayan dan menuju ke arah pedagang kaki lima di pinggiran kota Kudus tempat jualan nasi goreng berada. Tampak kilauan lampu-lampu menambah indahnya malam ini. Hingga tak terasa aku mulai terbayang dengan Karin yang sudah membuatku tergila-gila padanya.
“Heh…!!! Malahan nglamun. Katanya tadi minta traktir nasi goreng, kok gak dimakan?” ujar Sapto.
Aku masih saja tidak perdulikan Sapto hingga ia mulai mengambil nasi gorengku.
“Eh, jangan diambil dong Sapto? Itu kan nasi gorengku?” kataku menarik lagi piring nasi goreng.
“Habis kamu dari tadi senyam-senyum sendiri. Kenapa naksir ma teman SDmu itu? Siapa tadi Karin kan?”
“Hehehe…kamu kok tahu sih Sapto. Gimana ya mau jelasin ke kamu?”
“Udahlah gak perlu jelasin ke aku. Aku udah tahu dari sifatmu yang sering  nglamun kalau lagi senang. Kenapa kamu gak jadian aja ma Karin. Kayaknya dia cocok ma kamu..” kata Sapto.
“Nanti aja ya ceritanya. Sampai di rumah aku ceritan semuanya deh ma kamu..”
“Ya udah habis makan nasi goreng langsung pulang ya. Aku udah gak sabar pengen dengerin ocehanmu Firman…” celutuk Sapto.
“Emang aku burung apa pake ngoceh segala??” kesalku.
♥ ♥ ♥
Hari ini aku pergi dengan Sapto untuk mengikuti les di sebuah lembaga pendidikan di Kudus. Aku menghampiri Sapto yang kebetulan rumahnya masih satu gang denganku. Kami meninggalkan rumah Sapto menuju tempat kami les. Sesampainya disana, aku tak menyangka Karin juga ikut les.
“Firman? Kamu les di sini juga ya?” tanya Karin tak percaya.
“Iya, aku udah dari kelas X les disini. Gak nyangka kita sering bertemu ya Rin?” jawabku gembira.
“Heem, aku juga tidak menyangka kok. Eh besok kan hari minggu, mau ya nemenin aku? Aku pengin ke pantai Kartini di Jepara.  Mau ya nemenin aku? Please…!!!” kata Karin meminta padaku.
“Baiklah kalau begitu. Ya udah yuk kita masuk kelas. Tuh pengajarnya udah datang…”
Akhirnya kami bertiga memasuki kelas yang sudah ramai dengan semangat.

Mentari memancarkan cahayanya dari ufuk timur. Embun-embun menetes dari daun satu ke daun satunya lagi. Aku segera bangun dan mandi karena hari ini adalah hari bahagiaku. Aku memilah-milih baju yang pas untuk aku kenakan pergi ke pantai bersama Karin. Lalu aku pamitan dengan ibu dan ayahku. Jam 7 aku berangkat menuju rumah Karin untuk menjemputnya. Motorku kini melaju dengan pasti, 10 menit kemudian sampailah aku di rumah Karin. Dia sudah menungguku di teras rumah. Tak lama kemudian ibu Karin datang dan kamipun berpamitan.
Setengah jam berlalu, kini matahari mulai naik pertanda sinarnya kini mulai menghangatkan bumi. Suasana di pantai Kartini hari ini ramai dengan pengunjung baik dalam kota maupun luar kota. Karin menggandeng tanganku mengajak aku turun ke pantai. Deburan ombak dan semilir angin membuat suasana menjadi begitu indah. Tiba-tiba tangan Karin memegang tanganku..
“Firman…” ucap Karin.
“Ya Karin ada apa?”
“Kamu percaya gak kalau cinta itu datang kapan saja dan dimana saja?” tanya Karin.
“Ehm..ya percaya sih, karena cinta itu lahir dari hati yang tulus. Karena cinta itu anugrah dari Tuhan. Karena cinta kita mampu merasakan apa yang ada di hati kita. Di saat kita sedih cinta dapat menghilangkannya dengan orang yang kita kasihinya…” jelasku beruntun.
“Wah kamu pujangga cinta banget Firman? Andai saja ada seorang cowok yang bisa pengertian seperti kamu Firman. Betapa beruntungnya cewek yang bisa mendapatkan kamu. Kamu baik, tampan, pinter lagi..hehehe…”
“Jangan terlalu memujiku berlebihan Karin. Aku juga sama sepertimu, sama-sama makhluk ciptaan Allah”
“Bijak banget kamu Firman. Ya udah kita ke tempat itu saja aku udah pesenin rujak” ajak Karin menggandeng tanganku lagi.
Kami saling berkejar-kejaran di pantai. Kami saling bermain air dan juga mengelilingi laut menggunakan perahu. Andai saja kamu tahu Karin, aku benar-benar mencintaimu. Tapi kenapa hatiku selalu ragu untuk bilang ke kamu? Gumamku dalam hati.
Dua jam berlalu kini hari mulai siang dan cuaca menjadi panas. Kami berdua pulang dengan perasaan yang bahagia. Tampak tangan Karin tiba-tiba memelukku, sesekali dia mengucapkan kalimat terima kasih padaku. Sampai di rumahnya aku segera berpamitan pulang, tapi tanpa aku sadari Karin menarik tanganku dan mengecup pipiku.
“Terima kasih Firman udah nemenin aku ke pantai Kartini” ucapnya.
“I…Iya sama-sama Karin. Ya udah aku pulang dulu ya…” jawabku.

   Malam yang berselimut dengan hawa dingin tidak membuatku beranjak dari teras depan. Aku masih saja memikirkan Karin saat bersama dengannya tadi pagi. Ya Allah, aku sangat mencintainya. Aku ingin selalu bersama dia. Sampaikan rasa rinduku ini padanya Tuhan. Jagalah dia Tuhan...
Suara hpku berbunyi, ku lihat sebuah sms dari Karin
Assalamualaikum Firman..
Mksh ya td udh nemenin aq ke pantai. Aq juga minta maaf soal tadi…
Ku balas sms dari Karin…
Walaikumsalam Karin..
Iya sama2. Soal tadi gak usah minta maaf. Yg pntg kamu senang aku jg senang. Ya udah aq mau nglanjutin ngerjakan Prku ya. Sampai jumpa…^_^
Aku menatap bintang di langit berharap suatu hari aku bisa mengutarakan perasaanku pada Karin, pujaan hatiku.
♥ ♥ ♥
Sinar bulan menyinari malam yang indah ini. Aku berjalan bersama Karin mengelilingi taman kota. Kami duduk berdua menatap bulan dan juga bintang yang berkelip di langit.
“Firman…!!!” ujar Karin.
“Ya Karin ada apa?” jawabku.
“Seandainya saja ada seseorang yang mencintaimu dengan tulus hati apakah kamu akan tulus mencintainya?”
“Ya pasti aku akan mencintainya Karin. Karena bagiku cinta adalah hal terindah dalam hidupku. Kenapa emangnya?”
“Gak papa kok, aku gak tahu kenapa aku selalu memikirkan apa yang namanya cinta. Aku ingin punya kekasih yang baik dan selalu setia padaku” katanya.
Aku diam sejenak. Aku bingung harus bilang apa. Apakah harus sekarang aku berkata pada Karin bahwa aku mencintainya?
“Aku yakin kamu pasti bisa mendapatkan kekasih pujaan hatimu itu. Percayalah…!!!” semangatku padanya.
“Makasih Firman. Aku senang punya sahabat baik sepertimu. Aku mau pulang” jawabnya.
“Ya udah aku antar saja ya?”
“Nggak usah aku mau sekalian ke rumah teman. Ada belajar kelompok jadi aku nginap di rumah temanku…”
“Ya udah hati-hati Karin”
♥ ♥ ♥
Entah kenapa hatiku selalu resah dan gelisah. Aku terbayang dengan wajah Karin yang selalu menghantuiku terus. Hingga tiba-tiba suara hpku berdering.
“Ya Halo Karin ada apa?” kataku memulai pembicaraan.
“Halo apakah ini Nak Firman? Ini ibunya Karin…uhuhuk…” jawab ibu Karin sesenggukan.
“Iya saya Firman Tante. Ada apa dengan Karin tante?” jawabku mulai bingung.
“Karin sekarang di rumah sakit di ruang ICU Firman. Karin sering memanggil nama kamu. Jadi tante mohon kamu bisa datang kan?”
“Baik-baik tante. Firman langsung berangkat sekarang”
Aku segera bergegas menuju rumah sakit. Hatiku kini berliput rasa gundah dan juga resah. Sampai di rumah sakit aku segera berlari menuju ruang ICU tempat Karin dirawat.
“Tante, maaf Karin sebenarnya sakit apa dan kenapa dia tidak bilang sama Firman tante?” kataku.
“Uhuk…uhuk… Karin menderita kanker otak. Dia melarang tante memberitahukan penyakitnya pada siapapun termasuk kamu Firman. Karena Karin pernah bilang kalau dia jatuh cinta kepadamu” jelas Ibu Karin.
Aku menghampiri Karin yang masih tak sadarkan diri. Aku memegang tangannya dengan erat. Air mataku tiba-tiba berlinang.
“Karin, ini aku Firman. Aku sekarang berada disisimu. Aku sayang kamu Karin. Bangun Karin…bangun…aku gak mau kehilangan kamu” tangisku mulai terdengar.
Tangan Karin tiba-tiba mulai bergerak. Matanya kini perlahan-lahan terbuka. Ia menatapku dengan lemah dan tak berdaya,
“Fir..Firman…” ucap Karin pelan.
“Ya ini aku Karin. Aku sekarang berada di sampingmu. Aku akan selalu menjagamu Karin. Sembuh ya Karinku sayang..??”
“Ma..makasih Fir…Firman. Tapi aku ti..dak bisa. Sebe..lum ak…aku pergi, kamu ma..mau kan jadi ke..kasihku?” tanya Karin.
“Jangan bilang begitu Karin. Kamu pasti bisa sembuh. Yakinlah…!!!” jawabku menangis tersedu.
Karin menggelengkan kepalanya dan dia kini memintaku untuk berkata lagi.
“Baiklah Karin. Hu..hu..hu aku mencintaimu Karin..” kataku lirih.
“Ma..ka..sih Fir..man. ak..aku juga cinta ka..mu” jawabnya dengan hembusan terakhirnya.
“Karin?? Karin?? Jangan tinggalkan aku…!!! Tidak Karin…Tidak!!!!” tubuhku kini lunglai tak berdaya.
Hatiku kini hancur berkeping-keping. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan saat ini. Kini Karin telah tiada disaat aku benar-benar mencintainya.

Nisan bercat krem bertuliskan nama Karin terpampang jelas. Aku masih saja meratapi kepergian Karin yang tidak akan kembali untuk selamanya. Sapto mengajakku pulang dan menuntun aku yang masih dalam kegalauan yang mendalam.
“Sap…Sapto. Bawa aku ke taman kota sekarang ya?” pintaku.
“Baik Firman” jawab Sapto.
Sampai di  taman kota. Aku duduk di kursi tempat aku dan Karin dulu bercengkrama dan bersama. Aku mengingat kejadian indah itu bersama Karin. Karin aku akan selalu mencintaimu. Satu kalimat terakhir untukmu Karin akan aku simpan selalu di hatiku ini hingga aku mati. Tunggu aku Karin… I Love You Forever…

THE END


“SELAMANYA AKU AKAN MENCINTAIMU”


Senja mulai tampak. Awan-awan kemerahan kini mulai menghiasi langit. Sang surya perlahan-lahan menghilang pertanda malam akan tiba. Aku masih saja termenung di pantai tak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku tak percaya Raisa pergi meninggalkan aku untuk selamanya. Aku menatap laut yang kini mulai pasang dan masih saja tidak beranjak dari pantai itu. Anganku melayang jauh mengingat kenanganindah bersama Raisa. Tak terasa air mataku mulai mengalir dipipiku.
“Raisa, kamu ingat gak waktu kecil kita sering main di pantai ini?” kataku.
“Ya ingatlah Adit. Kita waktu kecil sering main kejar-kejaran sama buat rumah dari pasir kan?” jawab Raisa.
“Kamu tahu gak dulu waktu kita kecil aku ngomong apa?” ujarku.
“Apa sih aku lupa Adit. Emangnya kamu ngomong apa ke aku waktu kita kecil?” penasaran Raisa.
“Aku ingin selalu bersamamu Raisa…”
Raisa masih belum menjawab pertanyaanku. Suasana hening masih terasa. Dua menit Raisa tidak berucap satu katapun kepadaku.
“Raisa?? Kamu kenapa?”
“Nggak kok. Aku hanya kaget aja dengan kata-katamu tadi..”
“Hehe, hanya bercanda kok Sa, jangan terlalu dipikirin” gelak tawaku padanya lalu mencubit pipinya.
“Iihh kamu Adit, aku tangkap kamu ya. Tunggu..!!” Raisa mengejarku menyusuri pantai yang  kini mulai senja.
♥ ♥ ♥
Lantunan lagu Romance “Ku ingin kamu” masih saja menemaniku hingga tak terasa malampun menyapaku. Dinginnya angin darat kini mulai menerpa tubuhku. Aku beranjak dari pantai dan meninggalkan pantai kenanganku dengan Raisa. Ku jalankan motorku dengan pasti menuju rumahku.
Di kamarku yang berhiaskan poster detective conan tak bisa membuatku ceria. Ku rebahkan tubuhku di kasur. Ku tatap langit-langit kamar. Anganku kembali menerawang jauh mengingat kenangan indah bersama Raisa.
“Kamu tahu gak Adit. Aku seharian membuat ini untukmu..Nih..!!” ujar Raisa menyerahkan syal kepadaku.
“Ini buatku ya Sa? Bagus banget. Makasih ya, kamu memang sahabatku yang paling baik deh” jawabku.
“Eh, Adit kamu tahu arti cinta itu apa?” tanya Raisa tiba-tiba.
“Ehm..kenapa kamu tiba-tiba ngomong soal cinta Raisa? Hayo pasti lagi jatuh cinta ya? hehehe”candaku.
“Iihh kamu kok gitu. Emang siapa yang lagi jatuh cinta?” jawabnya balik.
“Malah tanya balik ma aku. Ya aku gak tahulah kamu lagi cinta sama siapa..!!”
“Ehm…aku jatuh cinta sama seseorang yang telah membuat hidupku menjadi lebih berwarna Adit. orang itu pintar, ganteng lagi..”
“Siapakah gerangan orang yang kamu sebut itu sob?” penasaranku sambil menatap lekat mata indah Raisa.
“Ehm..yang pasti orangnya adalah temanku sendiri lah..”
“Apa itu adalah teman dekatmu Raisa?” tanyaku penasaran.
“Nanti juga tahu sendiri kamu Adit...!! hehehe…” jawabnya mencubit pipiku.
“Ah Raisa gitu gak mau kasih tahu aku..”
“Biarin, biar kamu penasaran aja..hehehe” tertawa Raisa dengan senyumannya yang manis.
Tanpa sengaja tangan Raisa memegang tanganku dan kamipun saling berpandangan satu sama lain.
“Raisa…??” panggilku dengan suara lirih.
“Iya Adit…!!” jawabnya.
“Apa kamu benar-benar jatuh cinta pada orang lain?”
“Nggak Dit, aku jatuh cinta pada sahabatku sendiri dan itu kamu Adit.!!”
          Tiba-tiba jantungku berdetak kencang tak karuan. Rasanya jantungku seperti terkena amnesia saja. Aku segera berpikir untuk menjawab kalimat yang baru terucap dari mulut Raisa.
“Adit…!! Kok malah bengong? Beneran aku naksir ma kamu Dit, tapi maaf ya aku terlalu nekat. Ngomong duluan ke kamu?” sipu Raisa dengan pipinya yang mulai memerah.
“Ehm…ehm..sebenarnya…ak..aku juga menaruh hati padamu Raisa” jawabku kikuk salah tingkah sendiri.
Suasana hening mulai menghinggapi kami berdua. Tak ada satu katapun terucap dari bibirku maupun Raisa. Aku masih tak percaya jika Raisa menyatakan cinta padaku. Hampir saja Raisa mengeluarkan kalimat dari bibirnya, tapi entah kenapa dia enggan untuk melakukannya. Akhirnya aku memulai berbicara lagi dengannya.
“Raisa…!!”kataku.
“Iya Adit..” jawabnya sambil menundukkan kepalanya.
“Jujur Raisa, sejak berkenalan denganmu, aku telah jatuh cinta padamu Raisa. Apalagi setelah kita bersahabat. Rasa itu semakin menjalari hatiku. Entah kenapa tiap kali aku dekat denganmu. Hatiku selalu berdegup kencang, dan aku baru sadar bahwa aku benar-benar jatuh cinta padamu Raisa…” jelasku pada Raisa.
“Adit…kenapa kamu tidak bilang dari dulu padaku?”
“Aku masih belum yakin Raisa, kamu tahu sendiri kan di kampus kamu sangat populer sekali..”
“Adit, aku tahu jika selama ini kamu menaruh rasa padaku. Aku juga cinta denganmu tapi baru kali ini aku berani mengungkapkan perasaanku padamu. Maafkan aku Adit jika terlalu jujur dan berani berkata padamu” ujar Raisa.
“Nggak apa-apa Raisa, aku mau kok jadi pacarmu. Kamu mau gak sama aku?” godaku padanya.
“Yee..mau banget dong jadi pacarmu. Siapa sih yang gak mau denganmu? Kapten basket yang paling digandrungi sama cewek-cewek di kampus ini..” celutuk Raisa dengan nada manjanya.
Kamipun berjalan bersama sambil bergandengan tangan. Tuhan, makasih karena cintaku kini aku raih. Thanks you so much God.
♥ ♥ ♥
Lamunanku buyar tatkala suara hpku berdering dengan keras. Aku segera meraih hpku yang tergeletak saja di tepi kasurku. Ku lihat sebuah sms dari Fikar, sahabat lamaku. Akupun segera beranjak dari tempat tidurku dan berlari menuju kamar mandi. Lima menit berlalu aku segera ganti pakaian dan langsung pergi menemui Fikar.
Di café tempat kami biasa bertemu, Fikar sudah menungguku dengan ditemani milk shake kesukaannya. Aku segera memesan orange jus dan juga spagheti kesukaanku.
“Adit, sebenarnya kamu ada masalah apa?” tanya Fikar memulai pembicaraan.
Aku diam sejenak, ku sedot orange jus yang baru aku pesan tadi.
“Aku masih tak percaya aja Raisa meninggalkan aku untuk selamanya Fik. Aku masih tidak bisa untuk melupakannya..” kataku dengan nada lirih.
“Adit, aku tahu perasaanmu saat ini. Tapi itu sudah takdir Tuhan, dan kamu juga tidak mungkin untuk berlarut-larut memikirkan Raisa. Cobalah untuk melakukan kegiatan yang kamu sukai Dit. Memang sangat sulit sekali jika kita ditinggalkan oleh orang yang kita cintai. Tapi kita tidak boleh melupakan apa yang harus kita kerjakan untuk masa depan kita Adit..” nasihat Fikar padaku.
 “Iya Fik, aku ngerti apa yang kamu maksud. Memang kita harus menatap ke depan untuk meraih masa depan kita sob..” jawabku.
“Nah gitu dong sob. Ya udah habis makan kita ke mall yuk. Dah lama banget nih aku gak kesana..” ajak Fikar.
“Tapi aku traktir es krim coklat ya..hehehe”
“Ahh kamu nih pasti ada pajaknya kalau aku ajak jalan-jalan. Iya tenang aja ntar aku beliin..” jawab Fikar murung.
♥ ♥ ♥
Satu tahun berlalu kini aku telah menempuh skripsi. Setelah menemui dosen pembimbing di kampus aku segera melaju dengan pasti ke pantai. Ku parkirkan motorku dan aku melangkahkan kaki menuju tepi pantai untuk melihat pemandangan laut biru yang  indah. Aku mengambil syal pemberian Raisa dari tasku dan memakainya. Terasa hangat mengalir setelah aku memakai syal. Aku menatap laut lepas dan tak terasa air mataku kini mulai membasahi pipiku.
“Adit…!! Sini cepat lihat KHSku..IPku cumlaude sayang..!!” girang Raisa.
“Masa sih?” jawabku tak percaya.
“Iya sini dong. Alhamdulillah berkat kerja kerasku belajar dan juga berdoa. Allah telah mengabulkan doaku sayang. Ini juga karenamu sayang. Kamu membuat aku semangat dalam meraih mimpiku..”
Aku melihat nilai KHS Raisa, dan ternyata memang tak disangka nilai IP Raisa 3.9 dan itu merupakan nilai yang cumlaude.
“Sayang, pintar sekali kamu. Aku aja gak nyampe segitu. Aku ngiri sama kamu sayang..” cemberutku.
“Makanya belajar, jangan sibuk basket doang..hehehe. Eh sayang, sebagai ucapan terima kasihku. Mau gak aku traktir?” ajak Raisa.
“Hmm mau banget dong sayang. Sekarang atau nanti perginya?”
“Nggak satu abad lagi. Ya sekaranglah sayangku yang ganteng..” manjanya padaku.
Kami berdua berjalan bergandengan bersama. Aku memboncengkan Raisa. Di jalan Raisa memelukku dan berkata padaku.
“Sayang, jika aku gak ada apakah kamu akan mencintaiku selamanya?”
Deg..!!! Kenapa Raisa tiba-tiba ngomong seperti itu padaku? Gumamku dalam hati.
“Kenapa kamu ngomong seperti itu sayang?” jawabku berbalik tanya.
“Aku ingin tahu aja sayang. Ingin tahu jawabanmu seperti apa..”
“Ehm..ya masih mencintaimu dong sayang. Sayang jangan ngomong gitu lagi ya. Nih kita udah hampir sampai di café..”
Kamipun tiba di café favorit kami. Kami memasuki café dengan masih berpegangan tangan. Entah kenapa hatiku tiba-tiba resah dan takut akan kehilangan Raisa.
“Sayang…!!! (tangannya memegang tanganku) Aku cinta padamu sayang..” kata Raisa.
“Iya sayang aku juga cinta padamu. Aku ingin selalu berada disampingmu” jawabku.
Sesuap demi sesuap nasi goreng Raisa kini mulai habis. Dan terasa kami sudah 20 menit di café itu. Tiba-tiba hp Raisa berdering. Diangkatnya telpon itu. Ada keseriusan dari pembicaraan antara Raisa dengan yang menelpon tadi.
“Sayang, maaf ya aku buru-buru nih. Tadi sepupuku telpon. Katanya nenekku masuk rumah sakit…” ujar Raisa.
“Aku anterin aja ya?”
“Gak usah sayang. Aku naik taksi aja. Gak apa-apa, lagian kamu juga ada latihan basket kan hari ini?”
“Iya, tapi gak apa-apa daripada kamu naik taksi sayang..” yakinku padanya.
“Gak apa-apa sayang, aku naik taksi saja. Ya udah aku berangkat dulu sayang. Udah ku bayar kok makanannya. Habisin aja dulu. Love u sayang..” katanya sambil mengecup keningku.
Rasa takut akan kehilangan Raisa tiba-tiba merasuk dalam hatiku. Segera aku ibas jauh-jauh pikiran itu dari hatiku. Tapi entah kenapa semakin aku ibas pikiran itu, semakin kuat saja rasa takut itu muncul dalam hatiku.
Setelah kuhabiskan makananku, aku segera pergi meninggalkan café untuk pergi latihan basket di kampus. Di perjalanan ku lihat dari kejauhan banyak sekali orang berkerumun dan berbondong-bondong menyaksikan kecelakaan. Rasa gelisah kembali mengguncang hatiku. Deg..Ya Allah ada apa itu?gumamku dalam hati. Aku segera menuju ke tempat terjadinya kecelakaan. Rasa gelisahpun bertambah ketika ku lihat sebuah taksi remuk di tabrak oleh truk. Aku segera berlari menuju orang yang terkena kecelakaan tersebut. Sesosok orang tak berdaya tergeletak begitu saja di jalan. Lumuran darah di dahinya mengucur dengan deras. Dan tak kusangka orang yang kecelakaan itu adalah Raisa.
“Raisa…Raisa…bangun sayang..bangun…” ucapku sesenggukan.
Hanya diam yang kini Raisa jawab. Dia tak sadarkan diri. Tak lama kemudian polisi dan ambulan datang. Aku membopong Raisa dan membawanya ke rumah sakit. Di rumah sakit aku tak henti-hentinya menangis akan kehilangan Raisa. Raisa kini dilarikan ke UGD.
Tak lama kemudian keluarga, sahabat Raisa dan juga Fikar datang. Segera aku memeluk tubuh Fikar sambil tak henti-hentinya aku menangis tersedu-sedu.
“Fikar…Raisa Fikar…!!! Aku takut kehilangan dia Fikar…!!!” kataku tersedu-sedu.
“Iya aku tahu Adit. Udah kita harus berdoa semoga Raisa baik-baik aja. Jangan nangis lagi ya..”
Lima belas menit kemudian sang dokter keluar dengan wajah memelas. Sang dokter memanggil keluarga Raisa.
“Bagaimana keadaan anak saya dokter??” tanya Ibu Raisa.
“Maaf ibu..anak ibu sudah tiada..” jawab dokter itu dengan menundukkan kepala.
“Apa dokter?? Tidak dokter tidak…!!!” kaget Ibu Raisa kemudian pingsan.
Aku segera berlari kearah ruang UGD. Tapi sang dokter melarangku. Tak lama kemudian jenazah Raisa keluar untuk kemudian dibawa kerumahnya.
Rumah Raisa kini berselimut rasa kepedihan. Lantunann ayat suci Al Qur’an dan tahlil menggema di seantero rumahnya. Karangan bunga berjajar-jajar menghiasi rumah duka Raisa. Aku masih saja menangis dan menangis tak menyangka secepat ini Raisa meninggalkanku untuk selamanya. Prosesi pemakaman Raisa berjalan dengan lancar. Entah kenapa aku masih tak tahu apa yang harus aku lakukan tanpa Raisa disisiku. Ku amati batu nisan yang bertuliskan namanya. Air mataku menetes dan menetes tak tahu sampai kapan harus berhenti
“Adit..!! Ayo kita pulang aja yuk. Udah senja mau magrib” ajak Fikar.
“Bentar Fikar, aku ingin disini sebentar lagi” jawabku terbata-bata.
Lima menit kemudian aku beranjak meninggalkann makam Raisa. Aku akan selalu merindukanmu Raisa..
♥ ♥ ♥
Sang matahari kini sudah hampir kembali ke peraduannya. Awan-awan kemerahan kini menghiasi dan menciptakan pemandangan  pantai yang indah. Aku tahu sudah satu tahun ini Raisa meninggal. Tapi rasa cintaku padanya masih tetap seperti dulu. Raisa aku mencintaimu. Selamanya kan kujaga cintamu ini dihatiku sayang. Selamanya aku akan mencintaimu. Karena aku yakin suatu saat nanti kita pasti akan bertemu di surga.

Minggu, 21 Agustus 2011

KETULUSAN CINTA YANG SUCI


Sinar bulan yang menemani aku menyusuri jalan masih saja membuatku gundah. Sejak sore tadi aku putuskan untuk pergi dari rumah karena aku tak sanggup mendengar pertengkaran antara mama dan papa. Aku khawatir kalau pada akhirnya mereka mengambil jalan cerai untuk mengakhiri ini semua.

Ku tatap jam tanganku menunjukkan pukul 9 malam. Aku masih tak kuasa menahan tangisku yang masih bercucuran. Aku duduk di pinggir trotoar dan menatap jalanan yang kini mulai sepi oleh lalu lalang kendaraan. Tiba-tiba mobil melintas dan berhenti tepat didepan aku. Sesosok pria kini mulai berjalan ke arahku. Tapi aku masih saja tertunduk.

“Rangga, ngapain kamu disini sendirian?” tanya pria tadi.

Aku mendongak ke atas dan kulihat Azzam sahabat karibku.

“Azzam?? Kamu kenapa bisa disini?” jawabku berbalik tanya.

“Kok malah balik tanya. Kamu ngapain disini?”

“Aku pergi dari rumah Zam..”

“Ya udah masuk mobil aja dulu. Kamu nginap di rumahku aja dulu” jawabnya.

“Makasih Azzam”

Kini mobil Azzam membawa kami menuju ke rumah Azzam. Sampai disana aku langsung masuk ke kamar Azzam. Dan menceritakan apa yang terjadi padaku.

“Azzam, sebelumnya makasih atas bantuanmu. Aku malah jadi ngrepotin kamu..” ucapku sambil meneguk teh hangat.

“Iya sama-sama Ga. Emangnya kamu ada masalah apa sampai-sampai kamu minggat dari rumah? Apa nanti ortumu gak khawatir denganmu?”

“Nggak Zam, aku bosan dengerin pertengkaran mama dan papa. Setiap hari mereka terus begitu. Aku juga sudah bosan dengan tingkah laku mama yang selalu pulang malam dan mabuk. Hingga papa marah-marah lagi sama mama. Dan akhirnya aku putuskan untuk pergi dulu aja dari rumah..” kataku memulai cerita.

“Ya Allah, sampai segitunya sih mama kamu Ga? Tapi apa kamu udah nasihatin mama kamu?” ujar Azzam.

“Udah berkali-kali aku nasihatin tapi tetap aja kelakuan mama masih tidak berubah. Pernah juga aku punya pacar waktu SMA mama gak ngrestui aku dan pacar aku itu. Dan aku malah dijodohin tapi aku menolak Zam.”

“Ya udah sekarang kita tidur aja ya. Kamu bawa perlengkapan kuliah besok kan?”

“Iya aku bawa semua kok. Sekali lagi maaf ngrepotin kamu sob..”

“Nyante aja bro, tapi besok habis kuliah kamu harus pulang lho. Tak anterin deh, hehehe” jawab Azzam.

“Ok good night sob…” ucapku.

Embun sejuk pagi hari membangunkan aku dari mimpi indahku. Ku tatap langit nan indah dari jendela kamar Azzam. Sekilas kulihat seorang gadis cantik berjalan melewati rumah Azzam dan melihat aku dengan senyumannya. Deg…Ya Tuhan cantik sekali gadis itu, gumamku dalam hati. Tiba-tiba pundakku ditepuk oleh Azzam.

“Heh…bengong aja kamu Rangga. Udah gak sedih lagi? Kok senyam-senyum sendiri?” ledek Azzam.

“Eh Azzam, kamu tahu gak cewek itu lho yang pake handuk pink itu (menunjukkan arah cewek tadi) cantik banget sob” riangku.

“Oh itu, namanya Aulia. Dia tetanggaku tapi beda Rt. Kenapa kamu naksir ma tu cewek. Cie…cie..” goda Azzam.

“Cantik banget lho sob. Dia udah kuliah ya?” tanyaku penasaran.

“Dia juga satu kampus ma kita. Tapi dia ambil psikologi semester 5 ini sama kayak kita” jelas Azzam.

“Nanti kenalin ya sama Aulia. Dikampus aja. Ya please…!!!!” pinta aku memelas

“Ehm…gimana ya? Ya udah dech, tapi kamu harus nraktir aku bakso ya? Hahaha” jawab Azzam tertawa kecil.

“Makasih sob (memeluk Azzam) kamu emang sahabatku yang paling baik. Thanks…”

Waktu yang kutunggu akhirnya datang juga. Tepat di kantin kampus aku udah menunggu Azzam dan Aulia datang karena Azzam dan aku sudah janjian untuk bertemu dengan Aulia di kantin. Lima menit berlalu, akhirnya Azzam dan Aulia datang juga.

“Oh iya Aulia, kenalin ini sahabatku Rangga. Rangga ini Aulia tetangga sekaligus teman aku” terang Azzam.

Kami saling berjabat tangan dan saling berpandangan satu sama lain.

“Rangga…”

“Aulia, kayaknya aku tadi lihat kamu di rumah Azzam emang benar ya?” kata Aulia memulai pembicaraan

“Iya, memang tadi aku menginap di rumahnya Azzam. Tetanggaan ya ma Azzam?” tanyaku sebisanya.

“Heem, ya udah Rez, Ga aku ke kelas dulu ya. Udah masuk kuliahnya…”

“Ok, senang bisa bertemu denganmu Aulia…!!!” gembiraku.

Lantas mata Aulia yang indah itu melihat aku dengan tatapannya.

Aku melangkahkan kaki perlahan supaya mama dan papa tidak tahu kalau aku sudah pulang. Tapi ternyata papa sudah mengetahui aku dan memarahi aku.

“Rangga…!!! Dari mana saja kamu? Kemarin kamu tidak pulang. Kemana saja kamu? Jangan bikin papa kecewa seperti mamamu yang selalu pulang malam-malam..!!!” bentak papa.

“Rangga hanya nginap di rumah Azzam pa. Ngerjain tugas bareng..” jawabku sebisanya.

“Kamu ini alasan terus Sudah ka…” kalimatnya terputus seketika melihat mama berjalan sempoyongan dengan seorang pria lain.

“Kamu ini ngapain? Siapa laki-laki ini…!!!” marah papa pada mama.

“Hehehe, ini teman aku pap. Udahlah jangan ngurusin orang..”

Melihat kejadian itu aku langsung menghampiri mama.

“Mama ini keterlaluan, bisanya mama hanya mengurusi urusan mama sendiri. Mama gak pernah ngurusin papa apalagi ngurusin Rangga? Mama sekarang berubah. Sudah lupa yang namanya sholat, ngaji, dan keluarga. Tega sekali mama sama papa dan Rangga. Mama kejam…!!!” kataku kesal dan menonjok perut laki-laki itu lalu naik ke lantai 2 ke kamarku.

Mama dan papa melihat aku berlalu sambil tak percaya mengapa aku bisa berkata seperti itu. Sampai kamar aku lalu menghubungi Azzam untuk ke rumahku.Ya Allah, mengapa mama masih saja tidak sadar atas perbuatannya itu. Sadarkanlah beliau Ya Rabb… doaku.

Aku berjalan menuju arah dapur, sekilas ku lihat papa duduk di ruang tengah dengan kepala menunduk. Aku menghampiri papa dan memberikannya secangkir teh hangat.

“Papa, ini teh buat papa. Langsung diminum pa mumpung masih hangat” kataku sambil menyerahkan secangkir teh ke papa.

“Makasih Rangga..” jawab papa dengan raut muka sedih.

“Papa ada masalah ya sama mama?”

“Nggak kok, cuma bertengkar biasa. Kamu udah selesai ujian semesternya?”

“Hari kamis ini selesai pa. Emangnya ada apa pa??”

“Habis ujian nemenin papa ke Semarang ya. Kita liburan di rumah nenek saja” kata papa.

“Baik pa, tapi aku ngajak Azzam ya??”

“Iya ajak dia ikut liburan. Papa ingin refreshing dulu. Mama minta cerai..”

Deg…!!! Ya Allah kenapa papa bilang seperti itu?? Gumamku dalam hati.

“Tapi apa mama beneran ingin cerai dengan papa??” jawabku tidak percaya.

“Udahlah ini urusan orang tua. Mungkin mama mengambil keputusan ini memang terbaik buat mama. Ya udah sana tidur aja ntar besok telat ke kampusnya..”

“Baik pa. Selamat malam pa…” ucapku meninggalkan papa yang masih duduk sambil menonton tv.

Terdengar suara rintikan gerimis hujan menghujam genting rumahku. Aku terbangun dari mimpiku bertemu dengan seorang bidadari yang cantik. Ku lihat jam menunjukkan pukul 5. Aku cepat-cepat bergegas mengambil air wudhu dan melaksanakan perintah Allah Sang Khalik. Pikiranku masih tertuju pada mimpi semalam. Aku bertemu dengan gadis cantik bernama Azizah. Suara ketukan pintu membuyarkan aku dari lamunanku.

“Rangga?? Rangga?? Udah sholat belum? Ayo siap-siap…!!!” seru papa memanggl aku.

“Iya pa, Rangga udah sholat. Ini juga lagi siap-siap. Rangga mau mandi dulu..” jawabku.

“Ya udah cepetan mandinya. Azzam udah dateng nih…”

Lima belas menit berlalu. Kini kami melaju dengan pasti meninggalkan kota kami Jakarta. Di dalam perjalanan aku selalu terbayang dengan wajah bidadari cantik Azizah di dalam mimpiku. Pukul lima sore tibalah kami di rumah nenek di Gunungpati-Semarang dekat kampus Unnes. Tiba-tiba seorang cewek melintas dengan jelas di depan rumah nenek. Dan aku semakin deg-degan saat melihatnya. Apakah dia Azizah? Dia persis banget sama dalam mimpiku semalam. Aku mengejar cewek itu dan menarik lengannya.

“Azizah?? Kamu Azizah kan??” tanyaku penasaran.

“Ih kamu ini siapa to? Kok tahu kalau namaku Azizah?” jawab cewek itu.

“Aku tahu namamu dari mimpiku semalam. Rumah kamu dimana?” singkat kataku bicara.

“Kamu gak sopan banget sih jadi cowok? Wong aku ja gak kenal sama sampeyan..!!” katanya kesal.

“Tapi…” kataku terputus.

“Sudah mas, aku mau pulang ke kost dulu. Assalamualaikum…!!!” jawabnya jutek.

Azizah meninggalkan aku yang masih terpana dengan kecantikannya. Aku masih tak percaya dengan apa yang barusan aku lihat. Aku bertemu dengan bidadari cantik dalam kenyataan. Rangga, inilah cintamu, raihlah dia Rangga…!!! Suara hatiku berkata demikian.

Azzaam menghampiri aku yang masih berdiri terpaku melihat Azizah berlalu dari pandanganku. Azzam melihat aku keheranan.

“Heh…!!! Ngapain kamu bengong Ga? Kenapa dengan cewek tadi? Barusan nyampe aja udah lari-lari kayak ngejar kelinci…hihihi…” katanya nyengir.

“Dia yang selama ini aku cari Zam…” jawabku.

“Maksudmu apa? Aku masih gak maksud dengan omonganmu?”

“Semalam aku bertemu dengan bidadari cantik bernama Azizah. Dan hari ini aku bertemu dengan dia. Dia persis banget dengan yang ada di dalam mimpiku” jelasku sambil mengusap keringat di wajahku.

“Ah…kamu ini ada-ada aja. Paling ilusi kamu saja kali. Ya udah masuk aja, nenek udah nunggu kamu di dalam. Nenek udah nyiapin makanan buat kita. Yuk…!!!” ajak Azzam menarik tangan aku.

Malam kini menyapa dan aku masih saja menunggu Azizah lewat di depan rumah nenek. Aku yakin dia adalah cintaku yang selama ini aku nanti. Malam semakin larut, tapi aku masih menunggu dan selalu menunggu hingga aku tertidur. Dalam mimpiku aku bertemu dengan sang bidadariku “Azizah”. Dia menggandeng aku jalan-jalan berkeliling di taman bunga yang indah.

“Rangga…aku mencintaimu” katanya dengan suara lembutnya.

“Aku juga mencintaimu Azizah…!!!” jawabku dengan semangat.

Suara nenek membangunkan aku dari mimpi indahku dengan Azizah.

“Rangga…!!! Rangga…!!! Ngapain tidur di teras ayo bangun…!!!”

“Nenek bangunin Rangga aja? Padahal lagi mimpi ketemu bidadari cantik Azizah” kesalku.

“Apa?? Azizah??” kata nenek tidak percaya.

“Iya Azizah. Nenek kenal dengan Azizah??” mataku memelas meminta penjelasan.

“Azizah itu karyawan nenek di toko roti nenek. Dia anaknya cantik, baik, rambutnnya panjang. Dia kerja di toko roti nenek kalau siang jam 2 sampai habis magrib. Paginya Azizah kuliah di Unnes. Tapi sekarang dia minta libur dulu karena ada liburan semester” jelas nenek secara rinci.

“Ya udah nenek. Makasih infonya” kataku memeluk nenek lalu pergi.

Azizah ternyata karyawan nenek di toko roti? Besok aku harus mencarinya. Semangatku membara dalam hati.

Suara adzan subuh berkumandang di seantero kampus Unnes dan sekitarnya pertanda pagi akan datang. Suara ayam-ayam berkokok menambah semangat aku hari ini. Aku bergegas mengambil air wudhu dan sholat berjamaah bersama papa dan Azzam. Pukul 6 pagi aku memutuskan untuk jogging berkeliling kampus Unnes bersama Azzam. Tengah perjalanan, ku lihat Azizah berdiri sendirian dengan membawa tas. Ku hampiri dia.

“Azizah??” sapaku.

“Ih…kamu lagi sih? Kamu ngapain sih ngikutin aku dari kemarin? Aku aja gak kenal sama kamu??” cetus Azizah.

“Aku datang kesini hanya ingin mengenal kamu lebih dekat. Boleh gak aku bicara denganmu. Sebentar saja? Please…!!!” kataku memohon.

“Ya udah, kamu mau ngomong apa?”

Aku menceritakan semua yang terjadi padaku. Dari bertemu dengannya dalam mimpi hingga benar-benar bertemu disini.

“Jadi kamu memang beneran mimpikan aku?” ucapnya tak percaya.

“Iya Azizah. Aku ingin bersamamu. Aku yakin kalau kamu adalah yang selama ini aku cari. Aku gak mau kehilangan kamu Azizah..”

“Kamu berarti Rangga ya??” tanyanya lagi.

“Iya aku Rangga. Ku mohon kamu jangan pergi. Aku mencintaimu Azizaah..” jawabku

“Tapi aku harus pulang ke Kudus Rangga. Liburan semester ini aku harus membantu ibu jualan di rumah” jelasnya.

“Aku antar ya. Kebetulan aku bawa mobil. Sekalian kamu kenalin aku sama orang tuamu. Berarti kamu mau menerima aku kan??”

“Iya aku terima kamu. Kemarin malam aku juga mimpi bertemu dengan kamu Rangga” katanya mulai menangis.

Aku mengusap air matanya dengan sapu tanganku.

“Gak usah menangis gitu. Aku janji akan selalu ada disisimu. Ya udah kita ke rumah nenek dulu. Pamitan dengan papa dan nenek” ajakku menggandeng tangannya yang putih.

Kota Kudus yang terkenal dengan julukan Kota Kretek membuatku semakin ingin mengerti lebih dalam kota tersebut. Satu jam berlalu, kini kami sampai di rumah Azizah yang megah.

“Azizah, katanya rumah kamu sederhana. Kok besar gini?” tanyaku tak percaya.

“Iya ini memang sederhana Rangga. Aku gak mau memamer-mamerkan kalau aku anak orang berada. Jadi aku harus bisa hidup sederhana. Ya udah masuk yuk, mama udah nunggu aku di dalam” ujarnya dengan suara yang lembut.

Kami melangkahkan kaki masuk ke ruang tamu. Mama Azizah menyambut aku dengan ramah.

“Azizah, mama kangen banget sama kamu sayang…” ucapnya memeluk Azizah.

“Aku juga kangen sama mama. Oh iya ma, kenalin ini Rangga pacar Azizah”

“Oh ini pacarmu? Ganteng sekali Azizah. Mama seneng deh kamu cantik Rangga ganteng. Pas deh..” canda mama Azizah kepadaku.

“Ya udah yuk masuk Rangga. Mama udah nyiapin makanan buat kita” ajak Azizah menggandeng tanganku.

Ya Allah terima kasih karena Engkau telah memberi kesempatan pada hamba-Mu ini untuk bersama Azizah. Aku mencintainya Ya Allah. Batinku dalam hati.

Senja kini telah tiba. Matahari tersenyum padaku pertanda akan kembali ke peraduannya. Aku berpamitan pulang ke rumah nenek di semarang. Dalam perjalanan tiba-tiba hpku berdering. Ku lihat nama Azizah terpampang dalam layar hpku. Ku angkat telpon itu.

“Halo Azizah? Ada apa?”

“Nak Rangga, ini mama Azizah. Nak Rangga bisa balik lagi? Azizah jatuh dan ini pingsan. Tolong tante nak Rangga…” ujar mama Azizah terdengar menangis.

“Ya Allah Azizah kenapa tante? Ya udah Rangga langsung balik sekarang tante” jawabku lalu menutup telponnya.

Aku segera melaju dengan cepat untuk sampai di rumah Azizah karena aku tidak ingin kehilangan Azizah. Aku yakin hanya dialah cintaku yang selama ini aku cari. Sampai di rumah aku langsung membopong Azizah masuk ke mobil. Ku jalankan mobilku menuju rumah sakit dengan hati yang sangat kacau. Azizah masih tak sadarkan diri.

“Sebenarnya Azizah sakit apa tante?” tanyaku sesenggukan.

“Azizah sebenarnya mempunyai sakit jantung. Sudah dari kecil dia menderita. Tante juga tidak tahu kenapa tiba-tiba Azizah sampai-sampai jatuh pingsan” jawabnya berlinangan mata.

Suara dokter memamnggil nama Azizah..

“Keluarga Azizah”

“Ya dokter. Saya ibu Azizah. Gimana keadaan anak saya dokter?”

“Alhamdulillah anak ibu sudah agak baikan. Sebaiknya Azizah menjalani rawat inap saja” jawab dokter dengan lugas.

“Alhamdulillah kalau begitu dokter. Terima kasih banyak dokter…”

Kini Azizah sudah sadarkan diri. Aku memegang tangannya dan mengecup keningnya.

“Alhamdulillah sayang akhirnya kamu udah sadar. Aku sempat bingung tadi waktu mama kamu nelpon aku”

“Iya mama memang sering begitu kalau kebingungan. Oh iya, waktu di semarang mama kamu kok gak kelihatan Rangga??” tanya Azizah penasaran.

“Mama dalam hidupku tidak ada artinya sayang. Dia yang sering menyakiti perasaan papa dan juga aku. Aku udah tidak sanngup punya mama seperti itu” jawabku menundukkan kepala.

“Sebenarnya ada apa dengan mama kamu Rangga?”

“Mama udah khianatin papa. Dia udah gak lagi merhatiin papa apalagi aku. Tiap harinya selalu pulang larut malam, kadang membawa seorang lelaki juga. Jadi papa memutuskan untuk berlibur ke semarang mengajak aku dan juga Azzam” terangku padanya.

“Oh begitu? Kasihan banget kamu sayang. Mungkin aku bisa menyadarkan mamamu…”

“Dengan cara apa??” tanyaku penasaran.

“Kalau aku udah sembuh ajak aku ke Jakarta mumpung ini masih liburan. Kebetulan rumah budheku ada di Kalibata. Insya Allah mama kamu bisa sadar Rangga. Percaya deh sama aku. Sekalian kamu ngenalin aku ke mama kamu” yakin Azizah padaku.

“Baiklah kalau begitu sayang. Semoga kamu berhasil…”

Suasana Jakarta sudah terasa lagi. Cuaca yang panas menjadi sapaan khas kota Jakarta ini. Aku mengantarkan Azizah ke daerah Kalibata tempat budhe Azizah tinggal. Sesudah itu aku langsung pulang sendiri dengan hati yang resah karena papa belum juga mau pulang ke Jakarta. Sampai rumah terlihat mama sudah rapi hendak berangkat kerja.

“Sayang, gimana liburan kamu dengan papa di semarang??” tanya mama dengan lembut.

“:Biasa aja ma, gak ada serunya” jawabku singkat.

Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki menghampiri mama. Dan ternyata seorang laki-laki menghampiri mama dan mengecup kening mama.

“Ma, ini siapa? Kenapa mama biarin orang ini masuk ke rumah?” kataku mulai rada tinggi.

“Udahlah Rangga, kamu gak usah ikut campur urusan mama. Ini klien mama dari luar kota. Tadi malam menginap disini..”

“Tapi mama, tidak boleh seorang laki-laki menginap di rumah perempuan yang sudah berumah tangga tanpa izin dari suami kan?”

“Halah gak usah ngajarin mama. Kamu ini dari semarang malahan bikin mama marah. Ya udah mama mau berangkat kerja. Ayo Toni…!!!” panggil mama pada lelaki itu.

Aku tak tahu harus berbuat apa untuk menyadarkan mama. Aku sudah capek melihat perlakuan mama seperti ini. Suara hpku berbunyi sebuah sms masuk dari Azizah.

Sayang, gimana dengan mama kamu? Kamu lagi sibuk gak? Aku udah tahu bagaimana menyadarkan mama kamu. Kamu ke rumah budheku sekarang ya??

Aku segera bergegas masuk mobil dan melaju ke arah kalibata. Sesampainya disana, aku disambut ramah oleh budhe Azizah yang kebetulan orang asli kudus.

“Rangga, mending mama kamu kita ajak ke semarang aja gimana? Menemui papa kamu dan yakinkan kalau selama ini papa kamu itu benar-benar tulus mencintai mama kamu..”

“Tapi apa mau mama aku ajak ke semarang? Mama kan lagi dieman ma papa, yang ada nanti malah tambah rumit”

“Kita coba aja, gimana kalau nanti sore kamu ajak aku ke rumahku kenalan dengan mama kamu?” ajak Azizah penuh semangat,

“Tapi apa kamu gak capek? Tadi pagi barusan nyampe jakarta. Kasian jantung kamu sayang,,,”

“Insya Allah gak napa-napa. Aku yakin mama kamu pasti senang liat aku. Percaya deh sama aku..” yakin Azizah dengan memegang tanganku dengan erat.

“Baiklah sayang. Nanti sore kamu kujemput. Moga aja mama bisa sadar Azizahku yang cantik…” godaku padanya.

“Ihh…gombal nih orang…!!!” jawabnya mencubit pipiku.

Waktu telah bergulir sampai tibalah sore hari. Kebetulan mama pulang agak awal sehingga aku pamit untuk pergi sebentar. Sesampai di rumah budhe Azizah, ku dapati Azizah sudah siap dengan penampilannya yang membuat aku terpesona.

“Sayang, kamu cantik banget pakai pakaian itu?” pujaku padanya.

“Ihh…jangan ngegombal lagi dong. Ayo buruan sebelum mama kamu pergi lagi kalau malam.hihihi…” canda Azizah.

“Ya udah yuk masuk mobil…” ajakku menggandeng tangannya.

Alunan lagu-lagu pop indonesia menemani kami menuju rumahku. Hingga tak terasa sampailah kami di rumahku. Mama membukakan pintu dengan wajah yang geram. Tapi tatkala melihat Azizah wajah itu menjadi sumringah.

“Ini siapa Rangga? Cantik banget…” puji mama pada Azizah.

“Oh, iya ma kenalin ini pacar Rangga dari kudus” jawabku.

“Azizah tante. Senang saya bisa bertemu dengan tante” sapa Azizah bersalaman dengan mama.

“Kok bisa kenal sama Rangga gimana ceritanya?” penasaran mama ingin mengetahui lebih lanjut.

Setelah itu Azizah asyik mengobrol dengan mama aku. Terlihat canda tawa diantara mereka berdua. Ya Allah semoga saja Azizah benar-benar bisa menyadarkan mama. Ketulusan hati Azizah menambah aku semakin mencintainya Ya Allah. Doaku pada Sang Khalik.

Selang beberapa menit kemudian. Mama tiba-tiba tertunduk dan tak berucap satu katapun. Aku lalu menghampiri mama.

“Ada apa ma? Kok diam?”

“Maafkan mama selama ini Rangga. Azizah memang benar, selama ini mama telah membohongin papa dan juga kamu Rangga. Mama telah mengkhianati cinta papa. Dan mama baru sadar orang yang dengan tulus mencintai mama apa adanya adalah papa kamu Rangga. Mama kangen sama papa…” kata mama mulai menangis.

“Udahlah tante. Sekarang tante sudah tahu kan jika om Mirza masih mencintai dengan tulus. Om Mirza pernah bercerita pada kami berdua bahwa beliau tidak mau kehilangan cinta tante…” timpal Azizah.

“Makasih Azizah. Kamu memang pantes bersanding dengan Rangga. Minggu depan mama akan ambil cuti, mama ingin minta maaf sama papa. Mama rindu sama papa”

Satu minggu telah tiba. Mama memutuskan untuk menemui papa di semarang. Sampai disana terlihat papa duduk sendiri di teras rumah nenek. Segera mama menghampiri papa dan memeluk tubuh papa.

“Maafkan mama selama ini papa. Mama baru sadar kalau cinta mama hanya untuk papa selamanya. Huhuhu….” tangis mama.

“Iya papa maafin mama. Papa itu tulus mencintai mama selamanya. Asal mama jangan mengulangi perbuatan itu lagi ya?” kata papa.

“Iya pa, terima kasih. Berkat Azizah mama bisa sadar kalau mama telah melakukan kesalahan sama papa” jawab mama.

Mendengar perbincangan mama dan papa, tiba-tiba Azizah menarik tanganku dan mengajakku ke suatu tempat.

“Rangga, kamu benar mencintaiku bukan??” ucap Azizah.

“Masa kamu tidak percaya sih sayang? Apa harus aku buktikan kalau aku benar-benar cinta kamu gitu? Ledekku padanya.

“Yupz..harus dengan bukti karena aku benar-benar tulus mencintaimu sayanag..”

Ku keluarkan sebuah kotak berisi cincin putih. Ku pasangkan pada jari manisnya yang lentik.

“Ya Tuhan indah sekali cincin ini. Makasih sayang” riang Azizah.

“Itulah bukti ketulusan hati aku sayang. Sekarang bukti kamu ke aku apa?”

“Apa ya? Rahasia deh…” jawabnya mengerjai aku.

Aku lalu mencubit pipinya. Dan dia mengejar aku untuk membalasnya. Terima kasih Ya Allah karena Engkau telah memberikanku cinta yang tulus dari seorang gadis pujaan hatiku…^_^

THE END